Jumat, 22 Juni 2012

pendidikan seumur hidup

idris danuarta

Jumat,21 juni 2012

pendidikan seumur hidup

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI i
KATA PENGANTAR ii
BAB I. PENDAHULUAN 1
BAB II. PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PENDIDIKAN 4
B. FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN 5
C. PENGERTIAN PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP 6
D. MAKNA DAN URGENSI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
1. Keadilan 8
2. Pertimbangan ekonomi 8
3. Peranan keluarga yang sedang berubah 8
4. Peranan sosial yang sedang berubah 8
5. Perubahan teknologi 9
6 Faktor-faktor vokasional 9
7. Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa 10
8. Kebutuhan anak-anak awal 10
E. AKTUALITA PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP 11
F. TINJAUAN TENTANG ASAS PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
1. Tinjauan Ideologik 15
2. Tinjauan ekonomi 15
3. Tinjauan sosiologika 16
4. Tinjauan politik 16
5. Tinjauan teknologi dan kultural 16
6. Tinjauan Psikologik dan paedagogik 17
G. STRATEGI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
1. Konsep-konsep kunci pendidikan seumur hidup 17
2. Arah pendidikan seumur hidup 19
BAB III. KESIMPULAN 21
DAFTAR PUSTAKA 23
KATA PENGANTAR

ﺒﺴﻡ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤﻦ ﺍﻠﺮﺤﻴﻡ

Rasa syukur saya panjatkan pada Allah SWT,atas perkenan-Nya jua makalah tentang pendidikan seumur hidup ini akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Walaupun masih banyak kekurangannya.
Makalah ini saya tulis untuk mencari tau makna sesungguhnya pendidikan seumur hidup dan juga apa arti dari pendidikan itu sendiri. Mungkin masih banyak yang belum saya jelaskan, namun saya berusaha untuk lebih bagus lagi.
Saya sebagai penulis menyampaikan terima kasih kepada bapak Drs.Usiono,M.A. yang telah memberikan pengetahuan tentang filsafat pendidikan, sehingga dengan pengetahuan yang telah di sampaikan bapak, saya dapat menyusun sebuah makalah tentang pendidikan seumur hidup, semoga makalah saya isinya disusun dengan baik.amin…………..

BAB 1
PENDAHULUAN

Pengertian pendidikan secara umum pada hakekatnya berlangsung ditengah masyarakat secara luas.Pendidikan adalah produk dari suatu sistem sosial masyarakat yang menjadi unsur kebudayaan.pendidikan itu dibagi dalam bermacam - macam,menurut prof.r.wroczynsky ada 3 macam pendidikan yaitu :
1. pendidikan formal yang meliputi berbagai jenis sekolah dari tingkat rendah,menengah dan tinggi
2. pendidikan ekstra kurikuler, yang berjalan sejajar dengan pendidikan formal.
3. pendidikan seumur hidup, yang merupakan lanjutan dari pendidikan formal dan ditujukan bagi orang dewasa.
Menurut stephens,pokok pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus memiliki kesempatan yang sistematik, terorgonisir untuk instruction, studi dan learning di setiap kesempatan sepanjang hidup mereka.
Pakar pendidikan yang juga mantan Menteri pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Fuad Hassan berpendapat, pendidikan dalam arti luas merupakan ikhtiar yang ditempuh melalui tiga pendekatan, yaitu pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan. Ketiga aspek itu berlangsung sepanjang hidup manusia.
Demikian Fuad Hassan saat menjadi pembicara kunci pada seminar nasional "Rekonstruksi dan Revitalisasi pendidikan Indonesia Menuju Masyarakat Madani", di Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jln. Gatot Subroto Jakarta, Kamis (2/9).
Hadir dalam cara itu, pengamat pendidikan Arief Rachman dan Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI, Dewi Fortuna Anwar.
Menurut Fuad, anggapan bahwa pembiasaan hanya efektif pada masa kanak-kanak jelas keliru karena pada usia dewasa dan lanjut usia pun pembiasaan masih terjadi. Misalnya, melalui kegiatan hobi dalam masa pensiun, kebiasaan makan yang berkenaan dengan pemeliharaan kesehatan, kebiasaan olah raga, dan lainnya yang dibentuk pada masa tua.
Halnya mengenai pembelajaran yang juga meliputi pelatihan, dikatakan Fuad, itu merupakan pendekatan yang terutama mengemuka melalui jalur pendidikan formal. "Melalui jalur ini, sesuatu program pembelajaran jelas cakupannya dari awal hingga akhir. Pendekatan ini lazim dilaksanakan melalui pendekatan klasikal dan kurikuler dalamsistempersekolahan," jelasnya.
Adapun tujuan dari pendidikan seumur hidup adalah menyembuhkan kemunduran akan pendidikan sebelumnya memperoleh keterampilan baru, meningkatkan keahlian, mengembangkan kepribadian dan sebagainya.
Menurut silva “ pendidikan seumur hidup berkenaan dengan prinsip pengorganisasian yang akhirnya memungkinkan pendidikan untuk melakukan fungsinya yaitu: proses perubahan yang menuntut perkembangan individu”.
Proses pendidikan seumur hidup akan selalu dialami oleh semua orang baik dihubungkan dengan proses belajarnya. Proses belajar yang dimaksud adalah belajar dalam rangka pendidikan formal disekolah dari sekolah yang terendah sampai sekolah yang lebih tinggi. Jadi sekolah merupakan tumpuan hidup seseorang, sehingga dengan langkah yang dilakukan dengan belajar akan menghasilkan pendidikan seumur hidup yang dapat kita proleh dari yang tidak tau menjadi tau. Sehingga pendidikan yang telah kita proleh tidak akan hilang ditelan bumi selama manusia masih bisa bernapas, bergerak, berpikir dan brtindak, pendidikan tidak akan hilang dari kehidupannya dan akan di bawa sampai mati.
Proses pendidikan yang dijalankan pada hakikatnya adalah proses membina pribadi-pribadi yang berwatak atas dasar nilai-nilai filsafat pancasila. Bagi pendidikan di indonesia, pancasila merupakan dasar sekaligus tujuan. Hal ini berarti antara das sein ( apa yang menjadi kenyataan ) dan sollen ( apa yang diharapkan ) telah menyatu.
Dewasa ini pendidikan sedang berada dalam tataran millenium ketiga. Fenomena millenium ketiga menggambarkan era globalisasi yang telah membawa berbagai perubahan dalam semua aspek kehidupan. Perubahan tersebut terjadi dalam bidang politik, ekonomi, sosial,budaya,ilmu pengetahuan dan teknologi. Tak terkecuali justru dunia pendidikan juga mendapat pengaruh dari perubahan masyarakat dan budaya dalam masyarakat era informasi. sehingga Pendidikan itu sangat di perlukan sampai akhir hayat. Dan kita harus mengerti apa sebenarnya pendidikan seumur hidup.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN
Menurut Dr.M.J.langevild, pendidikan yaitu pemberian bimbingan bantuan rohani bagi yang masih memerlukan.
Menurut Prof,Dr.john dewey, pendidikan adalah suatu pengalaman.
Menurut John park. Pendidikan adalah seni atau proses dlam menyalurkan atau menerima pengetahuan dan kebiasaan-kebiasaan melalui pengajaran dan study.
Menurut Prof.Herman H.horn. pendidikan adalah proses abadi dari penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisik dan mental yang bebas, dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional dan kemauan bagi manusia.
Menurut Drijarkara, pendidikan secara prinsip adalah berlangsung dalam lingkungan keluarga. pendidikan dalam arti luas merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahtraan hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat.
Didalam Tap MPR NO. IV/MPR/1973 disebutkan : “ pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangakan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Tujuan pendidikan suatu masyarakat atau bangsa, selaras dengan pandangan hidup dan cita-cita masyarakatnya. Cita pendidikan yang positif mendorong anak didik untuk memperuleh pengalaman dan potensi eksotif, objektif dan bertangung jawab. Dengan demikian menjadi terwujudlah cita-cita demokrasi yang menjadi filsafat dan tujuan dalam pendidikan.
Tujuan umum pendidikan adalah mewujudkan, melaksanakan dan memelihara perkembangan cita-cita kehidupan masyarakat bangsa serta mengarahkan pengalaman belajar mereka kepada filsafat atau cita-cita yang mereka inginkan.
Dalam prakteknya ada hubungan yang saling mempengaruhi dan fungsional antara proses atau kegiatan pendidikan di rumah tangga, pendidikan di sekolah dan di masyarakat. Berarti proses pendidikan berlangsung terus-menerus atau selama hidup yang dimanifestasikan dalam konsep pendidikan seumur hidup. Sebab pada hakikatnya baik di rumah tangga, sekolah maupun masyarakat proses pembinaan, bimbingan, pengawasan dan pembentukan anak berlangsung secara berkesinambungan.
Dalam memahami pendidikan, paling tidak ada dua sudut pandang untuk melihat hakikat pendidikan, yaitu :
1. pendidikan dari sudut pandag individu beranggapan bahwa manusia di atas dunia ini mempunyai sejumlah kemampuan bawaan yang sifatnya umum pada setiap manusia, sama umumnya dengan kemampuan melihat dan mendengar tetapi berada dalam derajat menurut masing-masing orang seper halnya dengan panca indera juga.
2. dari segi pandang masyarakat, diakui bahwa manusia memiliki kemampuan asal dan bahwa anak-anak itu mempunyai benih-benih bagi segala yang telah dicapai dan dapat di capai oleh manusia.

B. FUNGSI DAN TUJUAN PENDIDIKAN
Pendidikan adalah suatu gajala universal dalam kehidupan manusia. Sejak dari awal kehidupan, dimana saja dan kapan saja pendidikan telah berlangsung sesuai keadaan masyarakat dan bangsa. Dari zaman ke zaman barikutnya, pendidikan berfungsi dalam mempertahankan eksistensi dan mengembangkan kebudayaan suatu masyarakat.
Menurut Lnggulung ( 1985:92) ada tiga pokok fungsi pendidikan dalam kehidupan masyarakat, yaitu:
1. menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Sebab berbagai peranan di masyarakat harus di isi oleh sumber daya manusia yang sesuai dengan kemajuan dalam rang kelanjutan hidup masyarakat.
2. memindahkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua ke generasi muda.
3. memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup ( survival ) suatu masyarakat dan peradaban.
John dewey berpendapat bahwa : tujuan umum pendidikan dalam kenyataannya tidak ada. Hidup itu suatu proses yang selalu berubah, dan tidak ada sesuatu yang tetap dan abadi, adapun pendidikan adalah suatu usaha manusia di dalam membantu proses hidup yang dihadapi. Tiap-tiap tujuan adalah usaha atau alat untuk mencapai tujuan lain yang lebih tinggi.
Tujuan pendidikan atau tujuan pendidikan nasional didasarkan atas falsafah negara atau way of life-nya bangsa indonesia yaitu pancasila. Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan umum sistem pendidikan nasional. Tujuan ini memang sangat umum dan merupakan tujuan jangka panjang yang menjadi dasar segala tujuan pendidikan di indonesia. Baik yang bersifat formal maupun nonformal.
Pendidikan nasional berdasarkan pancasila, bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap tuhan yang maha esa, kecesdasa dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cita tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membantu dirinya sendiri serta secara bersama-sama bertanggung jawb atas pembangunan bangsa.

C. PENGERTIAN PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Menurut stephens,pokok pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus memiliki kesempatan yang sistematik, terorgonisir untuk instruction, studi dan learning di setiap kesempatan sepanjang hidup mereka. Adapun tujuannya adalah menyembuhkan kemunduran akan pendidikan sebelumnya memproleh keterampilan baru, meningkatkatkan keahlian, mengembangkan kepribadian dan sebagainya.
Menurut silva “ pendidikan seumur hidup berkenaan dengan prinsip pengorganisasian yang akhirnya memungkinkan pendidikan untuk melakukan fungsinya yaitu: proses perubahan yang menuntut perkembangan individu”.
Dari kedua pengertian tersebut di atas maka pendidikan seumur hidup sebagai asas pendidikan mempunyai aspek-aspek :
a. pendidikan seumur hidup merupakan prinsip pengorganisasian kesempatan. Prinsip ini memungkinkan bahwa setiap kesempatan dalam kehidupan manusia dapat digunakan untuk berlangsungnya proses pendidikan, seperti pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan non formal.
b. Proses pendidikan yang dilangsungkan berguna untuk meningkatkan pendidikan sebelumnya, memproleh keterampilan, mengembangkan kepribadian atau tujuan lain yang lebih khusus.
c. Pengorganisasian kesempatan ini memungkinkan adanya penyelenggaraan program-program pendidikan/belajar sendiri seperti : pembuatan buku huruf, latihan bagi orang-orang dewasa.
Hal ini yang membedakan pendidikan seumur hidup dengan belajar seumur hidup.
Dave dalam lifelong education and scool curriculum ( 1973 ) mencoba menggambarkan kerangka kerja teoritis dan operasional pendidikan seumur hidup dalam empat tahap yaitu :
1. deskripsi komponen-komponen hidup
2. deskripsi aspek-aspek dalam perjalanan sepanjang hidup
3. deskripsi pendidikan
4. deskripsi sebuah sistam operasional pendidikan seumur hidup.
Perjalanan manusia seumur hidup ( lifelong ) mengandung perkembangan dan perubahan yang mencakup tiga komponen, yaitu :
1. tahap-tahap perkembangan individu ( masa belita, masa kanak-kanak, masa sekolah, masa remaja dan masa dewasa )
2. peranan-peranan sosial yang umum dan yang unik dalam kehidupan, yang berbeda-beda di setiap lingkungan hidup.
3. aspek-aspek perkembangan kepribadian ( fisik, mental, sosial dan emosional)


D. MAKNA DAN URGENSI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Secara terperinci makna pendidikan seumur hidup adalah sebagai berikut :
1. Keadilan
Paul Lengrand berhasil menunjukkan bahwa makna pendidikan seumur hidup adalah mendorong seluruh masyarakat dan status setiap masyarakat agar memiliki kesempatan sepenuhnya untuk merealisasikan potensi mereka dan persamaan jalan untuk memproleh keuntungan sosial, ekonomi dan politik.
Pernyataan Bowley lebih tegas menyatakan bahwa sekolah melaksanakan reproduksi relasi sosial produksi dan berbeda dengan pendidikan seumur hidup yang pada prinsipnya adalah untuk mengeleminasikan peranan sekolah sebagai alat untuk melaksanakan ketidakadilan.
2. Pertimbangan ekonomi
Croplay dan Gross menyebutkan terdapat kebutuhan yang semakin meningkat untuk memperbesar pelayanan pendidikan, memperluas daya serap sekolah dan lebih meragukan jenis-jenis pendidikan.
Pendapat Zhamin Konstanian berpendapat perlunya pembentukan sistem pendidikan yang berfungsi sebagai basis untuk memproleh keterampilan tipe baru yang secara ekonomis berharga untuk masyarakat.
3. Peranan keluarga yang sedang berubah
Dalam mengatasi keluarga yang sedang berubah pendidikan seumur hidup dapat memperlengkapi kerangka organisasi yang memungkinkan pendidikan mengambil alih tugas yang dulunya ditangani oleh keluarga.
4. Peranan sosial yang sedang berubah
Perkembangan ilmu dan teknologi di masyarakat yang sedang berkembang di mana berbagai perubahan tampak pada masyarakat tersebut secara jelas. Keadaan ini menyebabkan pendidikan, khususnya harus berisi training yang kuat dan memainkan peranan sosial yang amat beragam untuk memparmudah individu melakukan penyesuaian terhadap perubahan hubungan antara mereka dengan orang lain.
Faktor-faktor yang mendorong bagi penyebaran dan pelaksanaan asas pendidikan seumur hidup tersebut, seperti :
1. perubahan sosial yang sangat cepat
Dunia pada akhir dari abad XX telah terjadi perubahan-perubahan besar yang berbeda dengan masa-masa yang silam. Perubahan ini disebabkan : pengaruh ilmu Negara barat, munculnya ideologi-ideologi baru, pengaruh faktor demografik, pengaruh demokrasi dan sebagainya. Pengaruh perubahan dunia tersebut terdapat dunia pendidikan tampak antara lain :
- banjirnya anak didik
- kekurangan sumber secara akut, baik sumber keuangan, materiil maupun insani.
- Kenaikan kost per anak didik
- Tidak sesuainya hasil pendidikan dengan kebutuhan masyarakat
- Inertia dan inefficiency dari sistem administrasi pendidikan.
2. muncunya negara-negara merdaka baru simultan dengan berkembangnya cita-cita demokratisasi pendidikan.
3. besarnya angka drop out khususnya pada tingkat sekolah dasar
4. kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat menuntut kita untuk terus menerus belajar.
5. Perubahan teknologi
Peribahan teknologi ini menyebabkan adanya ketidakpastian keterampilan yang diperlukan, menurunkan peranan sosial dan berbagai interpersonal dan sebagainya. Di sinilah betapa besar peranan pendidikan yang diselenggarakan dalam kosepsi yang luas sehingga setiap manusia dapat menggunakan jasa pendidikan yang ada.
6 Faktor-faktor vokasional
Berbagai macam keterampilan/kejuruan dibutuhkan oleh orang-orang dewasa sejalan dengan laju kebutuhan manusia dan kemajuan zaman, yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Inilah sebabnya, maka praktek penyelenggaraan pendidikan hendaknya melengkapi pelajar dengan keterampilan untuk merealisasikan secara positif terhadap perubahan baik dari segi meneruskan kemampuan yang secara kejuruan berguna bagi masyarakat maupun kemampuan untuk mempertahankan identitas dalam menghadapi jenis pekerjaan yang berbeda.
7. Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa
Sejalan dengan melajunya jenis pekerjaan dan perkembangan ilmu dan teknologi, orang dewasa merasakan kekurangan akan keterampilan yang selama ini dimiliki dan sekaligus perlunya keterampilan-keterampilan baru yang relevan.
Jadi, disini setiap pendidikan hendaknya diorganisir, untuk membantu belajar masa dewasa di seluruh tingkatan masyarakat. Inilah perlunya politik pendidikan seumur hidup.
8. Kebutuhan anak-anak awal
Masa kanak-kanak awal merupakan fase perkembangan yang mempunyai karakteristik tersendiri oleh karena anak-anak telah memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengerti yang menentukan perkembangan anak-anak tersebut selanjutnya.
Dengan demikian betapa pentingnya pendidikan seumur hidup yang memberi kesempatan anak-anak usia pra-sekolah menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan lebih lanjut dapat menuntun anak kearah jenjang kerja sesuai dengan bakat dan kemampuan dirinya.
Drs H Fuad Ihsan (1996:44-45) dalam buku Dasar-dasar Kependidikan, menulis beberapa dasar pemikiran --ditinjau dari beberapa aspek-- tentang urgensi pendidikan seumur hidup, antara lain: Aspek ideologis, setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan pengetahuan dan menambah keterampilannya. pendidikan seumur hidup akan membuka jalan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi diri sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
Aspek ekonomis, pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk dapat keluar dari “Lingkungan Setan Kemelaratan” akibat kebodohan. pendidikan seumur hidup akan memberi peluang bagi seseorang untuk meningkatkan produktivitas, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya, hidup di lingkungan yang menyenangkan-sehat, dan memiliki motivasi dalam mendidik anak-anak secara tepat sehingga pendidikan keluarga menjadi penting.
Aspek sosiologis, di negara berkembang banyak orangtua yang kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya, ada yang putus sekolah bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali. pendidikan seumur hidup bagi orang tua merupakan problem solving terhadap fenomena tersebut. Aspek politis, pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada seluruh rakyat untuk memahami fungsi pemerintah, DPR, MPR, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Tugas pendidikan seumur hidup menjadikan seluruh rakyat menyadari pentingnya hak-hak pada negara demokrasi.
Aspek teknologis, pendidikan seumur hidup sebagai alternatif bagi para sarjana, teknisi dan pemimpin di negara berkembang untuk memperbaharui pengetahuan dan keterampilan seperti dilakukan negara-negara maju. Aspek psikologis dan pedagogis, sejalan dengan makin luas, dalam dan kompleknya ilmu pengetahuan, tidak mungkin lagi dapat diajarkan seluruhnya di sekolah. Tugas pendidikan sekolah hanya mengajarkan kepada peserta didik tentang metode belajar, menanamkan motivasi yang kuat untuk terus-menerus belajar sepanjang hidup, memberikan keterampilan secara cepat dan mengembangkan daya adaptasi. Untuk menerapkan pendidikan seumur hidup perlu diciptakan suasana yang kondusif.

E. AKTUALITA PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Banyak ahli pendidikan di berbagai mancanegara menyadari pendidikan, terutama sekolah (formal), kurang mampu memenuhi tuntutan ke hidupan. Karena itu, dalam pertemuan internasional yang diprakarsai Badan PBB Urusan pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO), mereka sepakat soal perlunya pendidikan seumur hidup.

Munculnya istilah ini, dalam dunia pendidikan, banyak menimbulkan dorongan atau pemikiran kritis terhadap pengartian pendidikan yang telah ada. Misalnya, tujuan pendidikan adalah pencapaian ke¬dewasaan, sekolahan terutama berjenjang akademik bukanlah satu-satunya sistem pendidikan, dan pendidikan hendaknya lebih menonjolkan sifatnya sebagai self initiative dan self education.

Jalur pendidikan formal memiliki banyak kelemahan jika dibandingkan dengan pendidikan nonformal. Kelemahan pendidikan formal, antara lain, terlalu menekankan pada aspek kognitif pada anak-anak didik. Anak didik seolah-olah hidup terisolasikan selama mengalami dan menjalani pendidikan.
Namun, jangan dimaknai pendidikan di sekolah formal tidak perlu. Dalam kenyataaannya pun jalur pendidikan ini tetap ada, malah semakin banyak bagai jamur di musim hujan. Hal ini disebabkan jalur pendidikan yang terlembagakan (formal), adanya keteraturan tentang perencanaaan dan pelaksanaaan pendidikan, juga memberikan rasa optimis bagi para peminatnya dengan jangka waktu yang relatif pendek.
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, dan agar pendidikan seumur hidup dapat benar-benar berada dalam sistem, diperlukan aspek lain, yakni aspek horizontal. Aspek ini bermakna efisiensi pendidikan. Separti sistem persekolahan, ia akan tercapai bila memperhatikan lingkungan, misalnya keluarga, tempat bermain, tempat kerja, atau lingkungan masyarakat secara luas.
Tidak ada istilah “tua” untuk belajar, never old to leam. Konsekuensi doa yang kita panjatkan harus sejalan dengan amaliyah nyata melalui kegiatan belajar yang terus-menerus. Nabi Muhammad SAW sekalipun telah mencapai puncak, masih tetap juga diperintahkan untuk selalu memohon (berdoa) sambil berusaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (M Quraish Shihab, 1999:178). Bukankah Allah Ta’ala telah menyatakan: Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami (QS al-’Ankabut, 29:69).
Siapapun yang punya suatu cita-cita dan ia bersungguh-sungguh berusaha mendapatkannya maka pasti akan ia dapatkan. Siapapun yang terus menerus mengetuk pintu untuk mencapai yang dicita-citakan maka pasti akan terbuka. Apa pun yang kamu inginkan bergabung kepada seberapa besar keinginanmu itu (Az-Zarmuji, 1994:29): Bi qadri ma ta’tani tanalu ma tatamanna.
Walaupun secara formal kita telah menyelesaikan pendidikan tinggi (S1, S2 dan S3) bukan berarti selesailah tugas belajar. Demikian juga seorang guru atau dosen tidak boleh merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki: “masih banyak yang belum kita ketahui”. Bukankah Imam al-Ghazali (1058-1111 M) --penulis buku Ilya ‘Ulum al-Din, dikenal dengan hujjah al-Islam-- pernah mengatakan: Kulllama izdada ‘ilmi izdada jahli, setiap kali bertambah ilmuku, bertambah pula kebodohanku.
Orang-orang yang banyak belajar akan semakin membuka mata kepala (‘ain al-bashar) dan mata hati (‘ain al-bashirah) untuk semakin tunduk, patuh dan taat kepada manhaj Rabbani. Untuk itu kita harus banyak membaca, karena membaca sebagai kunci untuk membuka “gudang ilmu-pengetahuan”, yaitu buku.
Dalam Islam, landasan pendidikan seumur hidup terdapat dalam ayat-ayat Alquran dan hadis Rasul, antara lain "Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi, serta pertukaran malam dan siang, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi mereka yang mempunyai (mempergunakan) akalnya". (QS. Ali Imran: 190). Dan pepatah arab "Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat".
Kesadaran akan pentingnya pendidikan seumur hidup menjadi mendalam dengan adanya sejumlah firman Allah SWT dan hadis Nabi Muhammad yang mendasarinya. Persoalannya, tinggal bagaimana menjabarkan dan mengimplementasikannya

F. TINJAUAN TENTANG ASAS PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Asas pendidikan seumur hidup bertitik-tolak atas keyakinan, bahwa proses pendidikan dapat berlangsung selama manusia hidup, baik didalam maupun diluar sekolah.







BAGAN
SEBUAH KERANGKA KERJA TEORETIS DAN OPERASIONAL UNTUK PENDIDIKAN SEUMUR H

Uraian tentang bidang pendidikan, baik ditinjau dari pendidikan sebagai proses dinamis yang begerak dari kondisi faktual menuju kondisi ideal maupun dari konsep pendidikan seumur hidup, menunjukkan bahwa bidang pendidikan tidak saja luas, tetapi juga kompleks karena banyak aspek dan dinamisnya. Bidang pendidikan menjadi objek formal ilmu pendidikan, dan aspek-aspek atau dinamisnya menjadi objek material dari cabang-cabang ilmu pendidikan.
Peninjauan tentang asas pendidikan seumur hidup menurut ANANDA W.P. GURUGE, DALAM KARANGANNYA YANG BERJUDUL “ Toward better Educational Management”, yang memberikan dasar pikiran sebagai berikut :

1. Tinjauan Ideologik
pendidikan seumur hidup akan memungkinkan tiap-tiap individu untuk mengembangkan potensi-potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Menjadi kewajiban bagi pihak penguasa atau golongan terpelajar dalam masyarakat untuk menyelamatkan rakyat dari bahaya kemelaratan dan kebodohan, sebagai mana yang dituntut oleh keadilan sosial.

2. Tinjauan ekonomi
Pendidikan seumur hidup itu memungkinkan rakyat itu untuk :
a. meningkatkan produktivitasnya
b. memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya
c. Memungkinkan mereka hidup dalam lingkungan yang lebih menyenangkan dan sehat
d. Menguasai kebiasaan dan prinsip hidup pribadi dan lingkungan yang sehat
e. Memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik anak-anak secara depat, sehingga peranan pendidikan keluarga itu menjadi sangat besar dan penting.
Aspek ekonomis, pendidikan merupakan cara yang paling efektif untuk dapat keluar dari “Lingkungan Setan Kemelaratan” akibat kebodohan. pendidikan seumur hidup akan memberi peluang bagi seseorang untuk meningkatkan produktivitas, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya, hidup di lingkungan yang menyenangkan-sehat, dan memiliki motivasi dalam mendidik anak-anak secara tepat sehingga pendidikan keluarga menjadi penting.

3. Tinjauan sosiologika
Hanya keluarga-keluarga yang lebih memiliki kesadaran pendidikan yang lebih tinggi sajalah yang mampu meningkatkan enrollment dan retention anak-anak didalam sisitem pendidikan sekolah. Apabila keluarga kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anaknya, maka anak-anak kurang mendapatkan pendidikan sekolah, putus sekolah bahkan tidak sekolah sama sekali. Disini pendidikan seumur hidup bagi orang tua akan merupakan pemecahan atas masalah tersebut.

4. Tinjauan politik
Perkembangan kehidupan institusi politik sampai ketingkat-tingkat daerah menuntut para pemimpin daerah untuk menyadari dan memahami fungsi pemerintah. Pendidikan kewarga negaraan menjadi makin lama makin penting dan ini menjadi tugas pendidikan dalam rangka pendidikan seumur hidup.

5. Tinjauan teknologi dan kultural
Negara-negara sedang berkembang, sebagai mana halnya dengan negara yang telah maju, dilanda oleh eksplosi ilmu teknologi dan pengetahuan. Para sarjana.guru, teknisi dan pemimpinya membutuhkan untuk terus menerus memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya, sebagai mana yang dilakukan oleh rekan-rekannya di negara yang sudah maju.
Aspek teknologis, pendidikan seumur hidup sebagai alternatif bagi para sarjana, teknisi dan pemimpin di negara berkembang untuk memperbaharui pengetahuan dan keterampilan seperti dilakukan negara-negara maju. Aspek psikologis dan pedagogis, sejalan dengan makin luas, dalam dan kompleknya ilmu pengetahuan, tidak mungkin lagi dapat diajarkan seluruhnya di sekolah. Tugas pendidikan sekolah hanya mengajarkan kepada peserta didik tentang metode belajar, menanamkan motivasi yang kuat untuk terus-menerus belajar sepanjang hidup, memberikan keterampilan secara cepat dan mengembangkan daya adaptasi. Untuk menerapkan pendidikan seumur hidup perlu diciptakan suasana yang kondusif.

6. Tinjauan Psikologik dan paedagogik
Perkembangan yang pesat dari pada ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai pengaruh besar terhadap konsep, teknik dan metodologi pendidikan. Di samping itu perkembangan tersebut menyebabkan makin luas, dalam dan kompleksnya pengetahuan sehingga hal itu tidak mungkin lagi diajarkan seluruhnya kepada nak didik di sekolah. Sebab itu tugas pendidikan formal yang utama sekarang ialah mengajarkan bagai man a cara belajar, menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak didik untuk belajar sepanjang hidunya. Untuk itu semua perlu diciptakan kondisi yang merupakan penerapan dari pada asas pendidikan seumur hidup.

G. STRATEGI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Stategi dalam pendidikan seumur hidup meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Konsep-konsep kunci pendidikan seumur hidup
Dalam pendidikan seumur hidup dikenal adanya 4 macam konsep kunci, yaitu :
a. Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri
hal ini berarti pendidikan akan meliputi seluruh rentangan usia dari usia yang paling muda sampai paling tua. Dan adanya basis institusi yang amat berbeda dengan basis yang mendasari persekolahan konsensional.
Konsepsi pendidikan seumur hidup ( lifelong education ) mulai di masyarakatkan melalui kebijaksanaan Negara ( ketetapan MPR NO. IV/MPR/1973 jo ketetapan MPR NO. IV/MPR/1978, tentang GBHN ) yang menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional ( pembangunan bangsa dan watak bangsa ) antara lain:
“ B. arah pembangunan jangka panjang
1. pembangunan nasional dilaksanakan didalam rangka pembangunan manusia indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat indonesia “
Dalam bab IV bagian pendidikan. GBHN menetapkan : “d. pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”.
Konsepsi pendidikan manusia ( indonesia ) seutuhnya dan seumur hidup ini merupakan orientasi baru yang mendasar. Ini berarti kebijaksanaan pendidikan nasional kita telah tidak berorientasi kepada sistem dan teori pendidikan Eropah kontinental yang diajarkan oleh Prof. Dr. M.J. L angeveld yang mengajarkan adanya batas umur dan batas waktu pendidikan. Misalnya, adanya batas-bawah antara 5 - 6 tahun dan batas-atas antara 18- 25 tahun yang dianggap sebagai tingkat kedewasaan ( kematangan ) pribadi. Dengan kebijakan tanpa batas umur dan batas waktu untuk belajar ( sekolah ), maka kita mendorong supaya tiap pribadi sebagai subjek yang betanggung jawab atas pendidikan diri sendiri menyadari bahwa :
a. Proses dan waktu pendidikan berlangsung seumur hidup sejak dalam kandungan hingga manusia meninggal
b. Bahwa untuk belajar, tiada batas waktu : artinya tidak ada istilah “ terlambat “
c. Bahwa belajar atau mendidik diri sendiri adalah proses alamiah sebagai bagian integral atau merupakan totalitas kehidupan.
Dalam konsep pendidikan seumur hidup pendidikan informal, non formal adalah saling mengisi dan memperkuat.

b. Konsep belajar seumur hidup
dalam pendidikan seumur hidup berarti pelajar belajar karena respons terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan angan-angan pendidikan menyediakan kondisikondisi yang membantu belajar.
Jadi istilah belajar ini merupakan kegiatan yang dikelola walaupun tampa organisasi sekolah dan kegiatan ini justru mengarah pada penyelenggaraan asas pendidikan seumur hidup.

c. Konsep pelajar seumur hidup
belajar seumur hidup yang dimaksudkan adalah orang-orang yang sadar tentang diri mereka sebagai pelajar seumur hidup. Dalam keadaan demikian perlu adanya pendidikan yang bertujuan membantu perkembangan orang-orang secara sadar dan sistematik merespons untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka seumur hidup ( pelajar dan belajar seumur hidup ).

d.kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup
kurikulum, dalam hubungan ini di desain atas dasar prinsip pendidikan seumur hidup betul-betul telah menghasilkan pelajar seumur hidup yang secara berunitan melaksanakan belajar seumur hidup.
Kurikulum yang demikian, merupakan kurikulum praktis untuk mencapai tujuan pendidikan dan mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan seumur hidup.
2. Arah pendidikan seumur hidup
Pada umumnya pendidikan seumur hidup diarahkan pada orang-orang dewasa dan pada anak-anak dalam rangka penambahan pengetahuan dan keterampilan mereka yang sangat dibutuhkan didalam hidup.
a. Pendidikan seumur hidup kepada orang dewasa
sebagai generasi penerus, kaum muda/dewasa membutuhkan pendidikan seumur hidup ini dalam rangka pemenuhan “ self interest “ yang merupakan tuntunan hidup mereka sepanjang masa.
Di antara self interenst tersebut, kebutuhan akan baca tulis bagi mereka umumnya dan latihan keterampilan bagi para pekerja, sangat membantu mereka untuk menghadapi situasi dan persoalan-persoalan penting yang merupakan kunci keberhasilan.




B. Pendidikan seumur hidup bagi anak
pendidikan seumur hidup bagi anak merupakan sisi lain yang perlu memperoleh perhatian dan pemenuhan oleh karena anak akan menjadi “ tempat awal “ bagi orang dewasa nantinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Program kegiatan disusun mulai peningkatan kecakapan baca tulis, keterampilan dasar dan mempertinggi daya pikir anak. Sehingga memungkinkan anak terbiasa untuk belajar, berpikir kritis dan mempunyai pandangan kehidupan yang dicita-citakan pada masa yang akan datang

BAB III
KESIMPULAN

Pendidikan adalah suatu gajala universal dalam kehidupan manusia. Sejak dari awal kehidupan, dimana saja dan kapan saja pendidikan telah berlangsung sesuai keadaan masyarakat dan bangsa. Dari zaman ke zaman barikutnya, pendidikan berfungsi dalam mempertahankan eksistensi dan mengembangkan kebudayaan suatu masyarakat.
pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus memiliki kesempatan yang sistematik, terorgonisir untuk instruction, studi dan learning di setiap kesempatan sepanjang hidup mereka. Adapun tujuannya adalah menyembuhkan kemunduran akan pendidikan sebelumnya memproleh keterampilan baru, meningkatkatkan keahlian, mengembangkan kepribadian dan sebagainya.
Makna pendidikan seumur hidup :
1. keadilan
2. Pertimbangan ekonomi
3. Peranan keluarga yang sedang berubah
4. Peranan sosial yang sedang berubah
5. perubahan teknologi
6. Faktor-faktor vokasional
7. Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa
8. kebutuhan anak-anak awal
Tinjauan tentang asas pendidikan seumur hidup :
1. Tinjauan Ideologik
2. Tinjauan ekonomi
3. Tinjauan sosiologika
4. Tinjauan politik
5. Tinjauan teknologi dan kultural
6. Tinjauan Psikologik dan paedagogik
Konsepsi pendidikan manusia ( indonesia ) seutuhnya dan seumur hidup ini merupakan orientasi baru yang mendasar. Ini berarti kebijaksanaan pendidikan nasional kita telah tidak berorientasi kepada sistem dan teori pendidikan Eropah kontinental yang diajarkan oleh Prof. Dr. M.J. L angeveld yang mengajarkan adanya batas umur dan batas waktu pendidikan. Misalnya, adanya batas-bawah antara 5 - 6 tahun dan batas-atas antara 18- 25 tahun yang dianggap sebagai tingkat kedewasaan ( kematangan ) pribadi. Dalam konsep pendidikan seumur hidup pendidikan informal, non formal adalah saling mengisi dan memperkuat.
Fuad Hassan berpendapat, pendidikan dalam arti luas merupakan ikhtiar yang
ditempuh melalui tiga pendekatan, yaitu pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan. Ketiga aspek itu berlangsung sepanjang perjalanan hidup manusia.
Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan yang mengandungi unsur-unsur pengajaran, latihan, bimbingan dan pimpinan dengan tumpuan khas kepada pemindahan berbagai ilmu, nilai agama dan budaya serta kemahiran yang berguna untuk diaplikasikan oleh individu (pengajar atau pendidik) kepada individu yang memerlukan pendidikan.
Asas pendidikan seumur hidup bertitik-tolak atas keyakinan, bahwa proses pendidikan dapat berlangsung selama manusia hidup, baik didalam maupun diluar sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Anshari, Hafi. pengantar ilmu pendidikan, usaha nasional,1982.
Azaz,wahab. pendidikan formal dan pendidikan non formal, Bandung : majalah pustaka, 1978.
Hasan,Langglung, pendidikan islam menghadapi Abad ke-21. jakarta: pustaka al-husna,1988
http://wewaits.wordpress.com/2008/05/03/jika-pendidikan-adalah-pilihan/
http://kawansejati.ee.itb.ac.id/perbedaan-antara-pendidikan-dan-pengajaran
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0408/16/utama/
http://priandoyo.wordpress.com
http://yherlanti.wordpress.com/
http://phadli23.multiply.com/journal /
http://elfarid.multiply.com/journal/item/574/Pendidikan_Adalah_Hak_Anak_Bangsa
Joesef,soelaiman. Pendidikan luar sekolah, surabaya :usaha nasional,1979.
Joesoef,sulaiman. konsep dasar pendidikan luar sekolah. Jakarta : Bumi aksara,1992.
Mudyahardjo,redja. filsafat ilmu pendidikan,bandung : PT remaja rosdakarya, 2001.
my.opera.com/arjuna_kabel/blog/2008/01/04/pendidikan-seumur-hidup
Nurgianto,burhan. dasar-dasar pengembangan kurikulum sekolah, yokyakarta :BPFE, 1988.
Saleh,anwar. Dasar-dasar pendidikan. Medan : CV.Jabal Rahmat,1996.
Soemanto,wasty. Dasar dan teori pendidikan dunia. Surabaya : usaha nasional,982.
Syafaruddin, ilmu pendidikan.Bandung : Cita pustaka media,2005.
Tim dosen fip-ikip malang. Pengantar dasar-dasar kependidikan, Surabaya: usaha nasional, 1981.
Usiono, pengantar filsafat pendidikan, jakarta :Hijri Pustaka utama,2009.
Zahara,Idris. Asas-asas pendidikan. Padang : angkasa, 1981.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar